UPAYA PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK UNTUK PRODUKSI PAVING BLOCK PADA BANK SAMPAH DI RW 12 KELURAHAN PENGASINAN KECAMATAN RAWALUMBU KOTA BEKASI
Keywords:
Paving block,, Sampah plastik,, Bank SampahAbstract
Sampah saat ini menjadi masalah besar bagi lingkungan perkotaan dan perdesaan, timbulan sampah tidak akan berkurang atau habis. Salah satu wilayah perkotaan yang menghasilkan sampah plastik terbanyak adalah Kota Bekasi, menempati urutan kedua di Jawa Barat dengan volume sampah 1.800 ton. Kota Bekasi melakukan upaya untuk mendirikan Bank Sampah di berbagai wilayah salah satunya adalah Bank Sampah Madani Resik, akan tetapi permasalahan yang terjadi adalah belum terdapat sistem pengolahan sampah yang baik, teknologi alternatif juga perlu digunakan untuk memastikan bahwa sampah plastik yang dikumpulkan masyarakat di Bank Sampah dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Salah satu alternatif teknologi yang dapat digunakan adalah dengan membuat paving block. Pada penelitian ini jenis plastik yang digunakan adalah PET (Polyethylene Terephthalate) dan PP (Polypropylene) karena pada Bank Sampah Madani Resik lebih banyak menghasilkan sampah jenis PET dan PP. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kuat tekan paving block berdasarkan SNI 03-0691-1996 dari campuran antara pasir dan sampah plastik jenis PET dan PP, untuk mengetahui kuantitas pemanfaatan sampah plastik per 1 m2 dalam pembuatan paving block. Jenis metode penulisan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Pada penelitian ini membuat 3 Variasi, variasi 1 komposisi plastik PP 10%, plastik PET 20%, dan pasir 70%, variasi 2 komposisi plastik PP 15%, plastik PET 25%, dan pasir 60%, variasi 3 komposisi plastik PP 20%, plastik PET 30%, dan pasir 50%. Hasil penelitian ini menunjukkan variasi 3 dengan nilai uji tekan 18 MPa menghasilkan paving block paling tahan, masuk ke mutu C (untuk pejalan kaki) berdasarkan SNI 03-0691-1996 serta pemanfaatan sampah plastik paling banyak dan dapat mempertahankan massa bahan awal dengan baik dengan total reduksi sampah plastik 14,12%, sehingga lebih sedikit bahan yang hilang selama proses.